Stretch mark, atau biasa diketahui sebagai guratan-guratan halus di bagian kulit tertentu seringkali membuat kepercayaan diri seseorang menurun. Terutama bagi perempuan, yang kerap dibayang-bayangi kehadiran stretch mark di sekitar perut saat sedang hamil.

Tubuh perempuan yang sedang hamil akan mengalami peregangan kulit sehingga terjadi stretch mark. Seperti disampaikan dr. Kevin A. Maharis, BmedSc, DipDerm, seorang ahli kecantikan, stretch mark merupakan suatu perubahan biologis pada tubuh yang cukup kompleks dan multiple factor. Salah satu salah satu factor yang dimaksud adalah faktor hormon.

“Faktor yang memengaruhi adalah perubahan dari tubuh itu sendiri, karena peregangan itu sendiri sangat cepat sehingga kolagen yang dituntut untuk mengimbangi perubahan kulit, tidak sesuai maka terjadi stretch mark,” terang dr. Kevin.

“Peregangan kulit itu sendiri terjadi sangat cepat sehingga pembentukan kolagen tidak cukup cepat untuk mengimbanginya,” lanjutnya.

Meski demikian, dr. Kevin juga mengatakan bahwa stretch mark mungkin saja terjadi pada wanita muda yang belum mengandung. Hal tersebut biasanya disebabkan oleh penurunan atau kenaikan berat badan. Sedangkan bagian tubuh yang rentan terkena stretch mark, selain perut adalah paha bagian dalam, pinggul, serta pinggang.

Foto: freepik

Selain itu, stretch mark juga dapat diperparah oleh abrasi akibat gesekan handuk saat mengeringkan tubuh. Sehingga dr. Kevin mengingatkan agar tidak terlalu keras saat memakai handuk untuk menghindari munculnya stretch mark.

“Kemudian dengan adanya moisturizer, pada saat kulit meregang bisa membantu melembabkan,” ujar dr. Kevin. “Sebaiknya pelembab dipakai tiga kali setelah mandi. Bagi yang sedang hamil dari trimester pertama sudah bisa mengoleskan pelembab sehingga stretch mark tidak terlalu parah,” lanjutnya.

Sedangkan apabila stretch mark sudah muncul, yang bisa dilakukan untuk menguranginya antara lain dengan vitamin A atau retinol acid. Namun harus dalam pengawasan dokter, terutama saat kondisi hamil dan menyusui.