Tahukah Medika Friends? Sampai saat ini hipertensi masih menjadi tantangan besar di Indonesia, dampak yang ditimbulkannya pun menjadi masalah kesehatan masyarakat. Terlebih hipertensi yang berkelanjutan dapat meningkatkan risiko komplikasi. Hipertensi jika berkelanjutan dapat meningkatkan risiko stroke, gagal ginjal, dan gagal jantung, serta munculnya demensia atau kepikunan. Risiko komplikasi akan meningkat dengan adanya faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah lainnya.

Selain berpotensi mengganggu fungsi ginjal dan jantung, hipertensi juga merupakan faktor utama yang mempengaruhi terjadinya demensia vaskuler pada pasien, oleh karena itu mengendalikan hipertensi terutama pada tekanan darah penting untuk dilakukan.

“Terdapat bukti bahwa hipertensi dapat menyebabkan risiko demensia dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian hipertensi di usia menengah menjadi faktor risiko di usia senja dimana apabila pengontrolan tekanan darah dilakukan dengan baik, dapat mencegah dan memperlambat terjadinya demensia vaskular dan Alzheimer,” dijelaskan Dr.dr.Yuda Turana, SpS, yang juga seorang ahli syaraf.

Foto: pixabay

Demensia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kumpulan gejala atau sindrom terjadinya penurunan fungsi kognitif yang biasanya bersifat kronis atau progresif. Oleh karena itu, demensia menjadi salah satu penyebab utama ketergantungan lansia terhadap keluarga atau pengasuhnya (WHO, 2012). Peningkatan angka kejadian demensia terjadi seiring bertambahnya usia.

Berbicara lebih lanjut mengenai demensia, sindrom ini terbagi atas dua jenis, yakni:

  1. Demensia Alzheimer: demensia yang disebabkan oleh proses degeneratif di otak yang progresif.
  2. Demensia Vaskuler: demensia yang disebabkan oleh masalah vaskuler, seperti : stroke.

Prevalensi demensia meningkat dua kali setiap pertambahan usia 5 tahun setelah melewati usia 60 tahun. Faktor risiko kejadian demensia selain dari segi usia adalah hipertensi (Gorelick, 2014). Hipertensi yang lama dapat menyebabkan aterosklerosis dan gangguan autoregulasi serebrovaskular, yang pada gilirannya diduga berkorelasi dengan demensia (Kennelly, 2009).

Lansia yang menderita hipertensi dapat menderita demensia karena hipertensi berperan mempercepat arteriosklerosis pembuluh darah otak sehingga mengganggu perfusi dan meningkatkan kemungkinan terjadinya infark. Infark di daerah hippocampus dan amigdala mengakibatkan demensia.

Foto: unsplash

Hipertensi juga mengakibatkan peningkatan permeabilitas (kemampuan meloloskan sejumlah partikel) pembuluh darah sehingga terjadi ekstravasasi protein ke dalam parenkim otak. Protein ini akan membentuk plak yang menyebabkan kematian neuron sehingga terjadi defisit neurotransmiter asetilkolin yang mengakibatkan demensia. Sehingga orang yang menderita hipertensi memiliki kemungkinan 2,7 kali untuk menderita demensia dibandingkan orang yang tidak menderita hipertensi.

Pencegahan terhadap demensia pada kasus hipertensi ini adalah dengan cara mengonsumsi obat anti-hipertensi, penelitian menunjukkan penggunaan obat anti-hipertensi dapat menurunkan risiko demensia sebesar 8% setiap tahunnya pada pasien berusia di bawah 75 tahun,” jelas dr. Yuda.

Nah Friends, terbukti bahwa tekanan darah tinggi atau hipertensi masih membayangi masyarakat Indonesia, oleh sebab itu diperlukan kesadaran yang tinggi dalam menjaga kesehatan. Dengan melaksanakan gaya hidup sehat maka dapat mengurangi tekanan darah tinggi, mencegah meningkatnya tekanan darah tinggi, meningkatkan efektivitas obat tekanan darah tinggi dan menurunkan risiko serangan jantung, penyakit jantung, penyakit ginjal, atau stroke. Dan jangan lupa untuk selalu mengecek kesehatan tubuhmu ya Friends!