Mata merupakan organ vital yang sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari. Kerusakan penglihatan akan menyebabkan turunnya produktivitas seseorang dan tidak menutup kemungkinan juga merusak masa depannya. Bahkan gangguan fungsi mata atau kebutaan bukan hanya mengubah kehidupan orang yang bersangkutan namun juga kehidupan keluarganya.

Meski demikian kebutaan masih dapat direhabilitasi, seperti dalam hal kerusakan kornea mata. Dikatakan dr. Sharita R. Siregar atau akrab disapa dr. Tasha, ketika kornea mata rusak yang harus dilakukan untuk memperbaiki penglihatan yaitu dengan cara transplantasi kornea.

Transplantasi atau cangkok kornea merupakan suatu tindakan mengganti kornea secara sebagian ataupun keseluruhan dengan kornea dari pendonor, tergantung dari seberapa jauh kornea tersebut telah rusak. Tindakan ini dapat memulihkan kembali penglihatan menjadi lebih terang bila dibandingkan dengan penglihatan sebelum operasi.

Kebutaan kornea terjadi saat kornea menjadi kabur atau tidak beraturan karena luka, penyakit, atau infeksi. “Orang-orang dari segala umur, mulai dari anak-anak hingga orang tua, saat ini sedang menunggu tranplantasi kornea. Orang-orang ini bergantung pada donor untuk memulihkan penglihatan mereka,” terang dr. Tasha.

Meski demikian untuk melakukan transplantasi kornea diperlukan donor kornea, yang didapatkan dari pendonor yang sudah meninggal. Saat ini, donor lokal yang kita dapatkan masih sangat minim dikarenakan rendahnya angka orang Indonesia yang bersedia mendaftar sebagai pendonor sehingga kita masih bergantung dari negara lain seperti Amerika, Nepal dan Sri Lanka.

Foto: freepik

Sebelum menjalani operasi transplantasi kornea, beberapa hal yang perlu diketahui pasien antara lain adalah, bahwa sebagian besar orang yang menerima transplantasi kornea akan memiliki penglihatan yang pulih setidaknya separuhnya. Kemudian, hasil transplantasi kornea tergantung pada alasan operasi dan kondisi kesehatan pasien. Risiko komplikasi dan penolakan kornea dapat terjadi beberapa tahun setelah transplantasi kornea dilakukan. “Karena itu, pastikan check up ke dokter mata setiap tahun,” kata dr. Tasha.

Sedangkan proses yang dijalani sebelum operasi adalah:

  • Pemeriksaan mata menyeluruh – dokter mata akan mengecek kondisi yang bisa menyebabkan komplikasi setelah operasi.
  • Pengukuran mata – dokter mata akan memeriksa berapa ukuran donor kornea yang diperlukan.
  • Ulasan tentang semua obat dan suplemen yang sedang digunakan – Mungkin perlu berhenti menggunakan obat atau suplemen tertentu sebelum atau sesudah transplantasi kornea.
  • Pengobatan untuk masalah mata lainnya – masalah mata yang tidak berhubungan, seperti infeksi atau peradangan, dapat mengurangi kesuksesan transplantasi kornea.

Dikatakan dr. Tasha, operasi transplantasi kornea biasanya memakan waktu satu hingga dua jam. Dokter bedah akan melepas bagian tengah kornea yang sakit, dan menggantinya dengan bagian kornea dari pendonor. Dokter dapat mengganti semua kornea, atau mengganti lapisan luarnya saja, atau hanya lapisan dalamnya saja. Dokter akan menggunakan jahitan kecil untuk menahan kornea atau bagian kornea yang baru pada tempatnya.

Setelah menjalankan operasi transplantasi kornea, banyak orang harus bermalam di rumah sakit, namun juga memungkinkan untuk pulang ke rumah di hari yang sama. Dokter akan memberikan tetes mata dan kadang obat untuk dibawa pulang. Tapi sebaiknya tidak berenang atau mengangkat barang berat dulu sampai dokter bedah memeriksa kembali kondisi mata.

“Banyak orang pulih dengan baik, namun mungkin membutuhkan waktu satu tahun untuk mata Anda sampai benar-benar membaik. Dokter Anda akan meminta Anda untuk kembali ke klinik secara rutin jadi mereka bisa memeriksa apakah transplantasi pulih dengan baik dan mengecek tanda-tanda penolakan,” tutp dr. Tasha.