Dalam dua dasawarsa terakhir, menurut UICC (The Union for International Cancer Control’s), sebanyak 21,7 juta orang terkena kanker secara langsung. Oleh sebab itu upaya pencegahannya harus dilakukan secara bersama-sama, mengingat kanker dapat menyerang siapapun. Banyak pasien baru mendeteksi kanker ketika sudah stadium lanjut, dan lebih buruk lagi ketika pasien lebih mempercayai mitos tentang kanker sehingga kondisinya menjadi lebih parah.

Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP, ketua Yayasan Kanker Indonesia mengatakan, “Masyarakat dihimbau untuk tidak begitu saja percaya tentang mitos seputar kanker yang banyak beredar, alih-alih menyembuhkan, justru dapat memperburuk kondisi pasien kanker”. Masyarakat diharapkan segera lakukan konsultasi dengan dokter untuk deteksi kanker sejak dini.

Foto: freepik

Adapun beberapa contoh mitos yang berkembang di masyarakat di antaranya adalah:

Mitos: Mengonsumsi makanan asam menyebabkan kanker.
Fakta: Tidaklah benar bahwa mengonsumsi makanan asam meningkatkan risiko kanker, sementara makanan dengan tingkat alkalin lebih tinggi justru sebaliknya. Sel kanker tidak dapat hidup pada lingkungan dengan kadar alkalin yang tinggi, namun sel-sel lain di tubuh manusia juga demikian. Keliru jika dikatakan makanan dapat membentuk alkalin dalam tubuh. Makan sayuran hijau memang sehat, tetapi bukan berarti berdampak pada tingkat keasaman atau tingkat alkalin tubuh kita. Lingkungan asam di seputar sel kanker lebih disebabkan oleh cara tumor menciptakan energi dan menggunakan oksigen, dibandingkan dengan selaput sehat lainnya. Tidak ada bukti bahwa makanan dapat memanipulasi tingkat keasaman tubuh yang menyebabkan kanker.

Mitos: Pengobatan kanker lebih merusak daripada menyembuhkan.
Fakta: Pengobatan terhadap kanker (kemoterapi, radioterapi atau bedah) merupakan perawatan serius. Efek sampingnya kerap terasa kuat, sebab pengobatan yang diciptakan untuk mematikan sel kanker juga dapat mengganggu fungsi beberapa sel sehat, misalnya sistem pembentukan darah (lekosit dan akar rambut). Pada kanker stadium awal, kemoterapi dan radioterapi masih diharapkan dapat menyembuhkan (disebut sebagai “tujuan kuratif) sedangkan pada stadium lebih tinggi misalnya 3 dan 4, masih bermanfaat untuk meringankan penderitaan (misalnya nyeri) dan mempertahankan kualitas hidup. Pembedahan masih merupakan pengobatan efektif terhadap beberapa jenis kanker, terutama pada stadium dini. Pada stadium lanjut pengobatan paliatif tersebut tetap dilakukan bagi pasien kanker untuk memberikan keseimbangan kualitas dan kuantitas hidup, sebagai hak pasien untuk menentukan pilihannya.

Mitos: Biopsi membuat tumor menjadi ganas.
Fakta: Banyak orang yang menolak pemeriksaan biopsi terhadap tumor yang diidapnya karena dikhawatirkan “benjolan akan menjadi kanker” atau “akan menjadi ganas” Hal ini merupakan mitos yang amat merugikan karena seringkali pengobatan menjadi terlambat. Ada dua hal yang perlu dimengerti disini. Pertama, sebuah benjolan yang jinak tidak akan menjadi ganas karena biopsy. Tumor jinak akan tetap jinak, demikian pula sebaliknya. Kedua, kanker tidak akan dapat diobati bila tidak diketahui jenisnya. Hal yang sama juga berlaku pada pembedahan.

Mitos: Berlebihan dalam mengkonsumsi makanan berlemak (dan pola makan yang buruk) dapat memicu resiko kanker. Beberapa jenis penyakit kanker yang muncul akibat berlebihan dalam konsumsi asupan lemak, yaitu kanker empedu, kanker usus dan ginjal.
Fakta: Lemak memadat tidak menyebabkan kanker, yang buruk adalah lemak berlebih  pada tubuh kita sendiri yang banyak diakibatkan oleh karbohidrat dan gula yang berlebih.