Sebagai salah satu penyakit jantung yang dapat menimbulkan kematian mendadak, aritmia cukup menyumbangkan angka tinggi pada kematian dan pengaruh terhadap kualitas hidup seseorang di Indonesia. Sekitar 87% dari data pasien penyakit jantung coroner yang meninggal mendadak di Indonesia menderita aritmia atau kelainan irama jantung ini. Oleh sebab itu melakukan tatalaksana yang tepat diharapkan dapat menurunkan angka mortalitas dan morbiditas.

Dikatakan oleh dr. Agung Fabian Chandranegara, SpJP (K), aritmia atrial fibrilasi terbagi menjadi beberapa jenis. “Ada yang memang jenisnya disebabkan oleh adanya kelainan katup, ada yang disebabkan oleh kelainan bawaan, atau disebabkan oleh kelainan lainnya,” terangnya.

Masing-masing jenis aritmia mempunyai cara terapi masing-masing, sehingga tidak semua atrial fibrilasi itu sama pengobatannya. Oleh sebab itu diperlukan adanya analisa lebih lanjut dari dokter spesialis jantung, dengan melakukan USG, echocardiography, pemeriksaan rekaman jantung 24 jam atau 36 jam secara terus menerus, atau dilakukan treadmill dan lain sebagainya.

Ketika sudah terdeteksi bahwa terdapat gangguan irama, maka sudah saatnya untuk segera memeriksakan diri ke spesialis jantung dan mendapatkan penanganan yang sesuai.

Foto: pexels

Dalam tatalaksana untuk aritmia sendiri meliputi tiga jenis terapi, yaitu farmakologi, elektroterapi, serta terapi bedah.

Terapi Farmakologi

Terapi aritmia secara farmakologi menggunakan obat-obat golongan aritmia. Pemakaian obat yang menjadi tatalaksana aritmia masa kini, yaitu pemakaian obat antikoagulan oral baru (OKB) untuk mencegah stroke pada kelainan irama fibrilasi atrium.

Elektroterapi

Ada beberapa jenis elektroterapi yang dapat digunakan dalam terapi aritmia, dan masing-masing modalitas terapi memiliki indikasi, teknik, serta komplikasi yang berbeda. Seperti:

  1. DC Kardioversi. Indikasi dari tindakan ini adalah takiaritmia (jantung berdenyut lebih dari 100 kali per menit) dengan mekanisme dasarnya berupa proses reentrant. Terapi ini memiliki efektivitas yang lebih tinggi daripada terapi dengan agen antiaritmia.
  2. Alat Kardioversi-defibrilasi tertanam (DKI). Pasien dengan risiko ventrikel aritmia fatal dapat diidentifikasi dan dilakukan pemasangan defibrillator kardioverter implant (DKI), maka kejadian kematian mendadak dapat dicegah atau diturunkan. Alat ini merupakan sebuah modalitas elektroterapi yang menggunakan alat yang ditanam pada tubuh pasien dan berfungsi untuk memonitor dan menghantarkan arus kardioversi secara otomatis bila terdeteksi adanya aritmia.
  3. Ablasi. Terapi ablasi adalah modalitas eletroterapi yang menggunakan energi listrik untuk menghancurkan myocardium yang menjadi fokus dari timbulnya aritmia.

Terapi Bedah

Terapi bedah pada aritmia memiliki prinsip yang sama dengan terapi ablasi pada modalitas elektroterapi. Bedanya, terapi bedah menghancurkan fokus aritmia secara mekanik.

Meski demikian, akan jauh lebih baik jika Medika Friends menjaga kesehatan agar terhindar dari berbagai gangguan jantung termasuk aritmia. Namun jika muncul gejala yang membuat Medika Friends khawatir, tidak ada salahnya langsung menghubungi dokter spesialis untuk mengonsultasikan kondisi jantungmu.