Bagi sebagian orang, mendengar kata operasi mungkin terasa menyeramkan. Betapa tidak, dalam bayangan masyarakat awam, operasi pasti menyakitkan karena harus melewati proses pembedahan besar di tubuhnya. Namun masyarakat telah mengenal Minimally Invasive Surgery, yaitu sebuah prosedur pembedahan yang dilakukan dengan seminimal mungkin memasuki tubuh melalui rongga, kulit, atau pembukaan tubuh dengan kerusakan sekecil mungkin, sehingga dampaknya juga dapat diminimalkan.

MIS juga dikenal sebagai ‘bedah lubang kunci’, bertujuan untuk mencapai hasil klinis yang dapat dibandingkan dengan bedah konvensional yang terbuka, tetapi dapat meminimalisasi kerusakan jaringan lunak yang merupakan bagian dari teknik konvensional. MIS menggunakan teknik dan instrumen khusus seperti kamera mikro atau peralatan video fiber optic dan kadangkala menggunakan petunjuk gambar, ultrasound atau teknologi Tomografi Komputer (CT) untuk mengakses bagian tententu. Untuk beberapa prosedur, MIS telah menggantikan teknik bedah konvensional yang terbuka  sebagai standar operasi.

Seperti diungkapkan DR. dr. Luthfi Gatam SpOT (K) Spine, keuntungan dari bedah minimally invasive bagi pasien adalah sayatan bedah yang kecil lebih kurang satu sentimeter. Serta meminimalkan darah yang keluar akibat sayatan saat operasi. Dengan metode itu, pasien dapat melakukan rawat jalan.

Teknik minimally invasive surgery dapat diterapkan pada medical cases yang berbeda, seperti tulang belakang/spine, kista, urology, THT, bedah digestive dan neurosurgery/bedah otak pada anak.

Foto: freepik

Misalnya pada proses operasi urologi yang dapat dilakukan pada kasus penyumbatan saluran kemih yang didapat (acquired) atau faktor turunan (congenital) dengan teknik PCNL (tindakan memecah batu dalam ginjal dengan nephroskop), URS (tindakan untuk diagnosa dan terapi saluran kemih), TUR Prostat (tindakan reseksi/pembuangan prostat dengan resectoskopi), juga untuk kasus kanker prostat dengan bedah minimally invasive.

Selanjutnya DR dr Luthfi Gatam SpOT (K) Spine menyampaikan bahwa dapat juga menggunakan fasilitas tindakan micro endoscopic discectomy (MED) yang hanya satu jam, tindakan operasi menggunakan jarum, perbaikan fraktur tulang belakang dengan menyisipkan balon, kemudian tindakan bukan operasi seperti injeksi sendi sambungan dan ablasi frekuensi radio pada sendi tulang belakang yang sakit.

Endoskopi juga berperan dalam tata laksana masalah telinga, hidung dan tenggorokan menggunakan teknik minimally invasive.  Atau teknik laparoskopi yang diterapkan pada kista ovarium, selain bisa juga digunakan untuk mendiagnosa kesuburan, kehamilan di luar kandungan, kelainan bawaan, dan tumor pada genital.

Diharapkan, melalui proses MIS ini dapat memberi harapan baru bagi pasien yang takut dengan proses pembedahan besar. Terutama dengan risiko yang dapat diminimalisir.