Friends, hingga saat ini kanker masih menjadi penyakit yang paling mematikan di dunia. Bahkan dalam data Riskesdas 2013 mengatakan, di Indonesia tingkat prevalensi kanker telah mencapai 1,4 per seribu jiwa atau setara dengan sekitar 347.792 orang. Di dunia terdapat berbagai jenis kanker, namun salah satu kanker yang tergolong tidak umum dan mematikan adalah kanker Limfoma Hodgkin.

Dijelaskan oleh Prof. Dr. dr. Arry H. Reksodiputro, SpPD-KHOM, Ketua Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik (PERHOMPEDIN), kanker Limfoma Hodgkin adalah kanker yang menyerang sistem kelenjar getah bening yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh.

Secara global, lebih dari 62.000 orang terdiagnosa Limfoma Hodgkin dimana sekitar 25.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit ini. Di Indonesia, angka kasus baru Limfoma Hodgkin pada tahun 2012 mencapai sebesar 1.168, dengan jumlah kematian sebesar 687. Menurut data Globocan, angka ini diprediksi akan mengalami peningkatan di tahun 2020, dengan kasus baru sebesar 1.313 serta angka kematian sebesar 811. Angka kematian yang tinggi di Indonesia terkait erat dengan keterlambatan pendeteksian, sehingga mengakibatkan sebagian besar kasus kanker sudah berada pada stadium lanjut.

“Sayangnya, karena tidak umum, banyak masyarakat tidak mengenal faktor risiko dan gejalanya,” terang Prof. Dr. dr. Arry H. Reksodiputro, SpPD-KHOM. “Padahal, 80 persen dari kasus Limfoma Hodgkin dapat disembuhkan melalui kemoterapi jika terdeteksi dini. Untuk itu, penting untuk tidak meremehkan benjolan pada tubuh, meski ukurannya kecil,” lanjutnya.

Foto: freepik

Gejala paling umum dari Limfoma Hodgkin diantaranya benjolan pada kelenjar getah bening yang ditemui di daerah leher, ketiak dan pangkal paha. Gejala lainnya termasuk demam atau meriang, berkeringat di malam hari, penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas hingga sebesar 10% atau lebih, kelelahan yang berlebihan dan kekurangan energi, kehilangan nafsu makan, batuk yang berkepanjangan, pembesaran limpa dan/atau hati.

Pada Limfoma Hodgkin, kombinasi kemoterapi awal dapat memberikan respon yang bertahan lama. Namun demikian, petugas kesehatan di Indonesia menyatakan sebanyak 20 persen dari pasien tersebut akan mengalami relaps (atau kambuhnya penyakit limfoma) atau refrakter (tidak memberikan respon) terhadap pengobatan awal. Sehingga dengan perkembangan teknologi dan terapi baru, harapan kesembuhan bagi para pasien dengan kondisi relaps dan refrakter dapat meningkat.

Terdapat beberapa opsi pengobatan Limfoma Hodgkin di Indonesia. Salah satu inovasi terkini adalah pengobatan Antibody Drug Conjugate (ADC), yang dikategorikan sebagai terapi bertarget (targeted therapy). Terapi bertarget dapat membantu mengirimkan agen yang kuat ke sel kanker yang menjadi target terapi ini, sekaligus meminimalisir paparan kepada sel yang tidak ditargetkan. ADC terdiri dari sejumlah terapi kanker bertarget yang telah menunjukkan keberhasilan dalam berbagai jenis kanker, termasuk Limfoma Hodgkin dengan kondisi relaps dan refrakter.

Prof. Dr. dr. Arry H. Reksodiputro, SpPD-KHOM menyimpulkan bahwa upaya peningkatan kesehatan masyarakat, termasuk pengobatan dan diagnosa kanker, membutuhkan keterlibatan seluruh pihak dan menjadi tanggung jawab bersama. Menemukan cara baru untuk mendeteksi dan mengobati kanker sedini mungkin merupakan tahap yang paling penting – yang mana tidak dapat terwujud tanpa partisipasi dan kerjasama seluruh komunitas medis.

Masyarakat pun sebaiknya lebih meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap kesehatan mereka masing-masing, terutama untuk mencegah timbulnya penyakit mematikan seperti kanker dan sebagainya. Dengan deteksi dini maka dapat dilakukan langkah efektif untuk pencegahan atau penyembuhan. Dan peluang untuk sembuh akan lebih besar.