Penyakit ini seringkali dianggap sebagai ‘silent killer’, yang kebanyakan penderitanya tidak menyadari sedang sedang mengalami, sehingga ketika terdiagnosa sudah berakibat fatal dan sulit ditangani. Adalah penyakit ginjal, sebuah gangguan yang terjadi pada organ ginjal, yang gejalanya seringkali sulit dikenali.

Sementara itu dalam kondisi yang lebih parah, ginjal bisa mengalami yang dinamakan gagal ginjal kronik (GGK), yaitu ketika fungsi ginjal semakin menurun secara bertahap dan tidak mampu lagi menyaring limbah pada darah sehingga menyebabkan banyak zat menumpuk pada ginjal.

Di Indonesia, angka penderita GGK terus meningkat. Berdasarkan riset dari UNICEF pada World Children Report 2012, Indonesia menempati posisi pertama di ASEAN yang memiliki jumlah anak obesitas tertinggi, yaitu sebesar 12,2%, hal ini berpotensi untuk meningkatkan angka penderita gagal ginjal pada anak.

GGK adalah penyakit yang bersifat progresif dan terbagi menjadi 5 tahap. Tahap 1 adalah yang paling ringan, sedangkan tahap 5 yang biasa disebut ESRD (End Stage Renal Disease) adalah tahap yang paling akut. Pada tahap ESRD ini pasiennya wajib menjalankan cuci darah agar tubuh tetap seimbang.

Untuk perawatan bagi pasien gagal ginjal, terdapat tiga metode yang dilakukan yaitu Hemodialisis (HD), Peritoneal Dialisis (PD), dan transplantasi ginjal. HD dan PD adalah opsi untuk terapi cuci darah selama menunggu waktu untuk dapat melakukan transplantasi ginjal.

Foto: freepik

Pada anak penderita ESRD, metode cuci darah dengan Peritoneal Dialisis (PD) bisa menjadi pilihan perawatan yang tepat. Metode PD bekerja dengan membersihkan racun dalam darah dan membuang cairan berlebih menggunakan membran pada tubuh, yaitu peritoneal membran (lapisan pada perut), sebagai penyaring racun. Membran peritoneal menyaring racun serta cairan dari darah melalui cairan. Cairan yang mengandung racun akan dikeringkan dari rongga peritoneal setelah beberapa jam dan berganti dengan cairan baru. Ini disebut pergantian. Pada umumnya pasien membutuhkan tiga sampai empat kali pergantian di setiap hari dengan waktu selama 30 menit. Pada saat proses penggantian, pasien dapat menjalani aktivitas dengan normal.

Peritoneal Dialisis memiliki beberapa kelebihan yang memberikan keleluasaan pada pasien anak-anak untuk mengatur jadwal cuci darah, diantaranya adalah:

  1. Anak-anak menjadi lebih mudah untuk menyesuaikan jadwal terapi dengan jadwal sekolah maupun aktivitas lainnya, karena pasien berhak penuh terhadap terapinya.
  2. Anak-anak dengan perawatan PD dapat bermain dan berolahraga di bawah rekomendasi dokter serta mereka dapat memiliki waktu yang fleksibel dalam melakukan beragam aktivitas.
  3. Anak-anak menikmati fleksibilitas dan kebebasan yang diberikan perawatan PD untuk memaksimalkan waktu yang mereka punya

“Metode PD merupakan pilihan banyak pasien ESRD anak-anak di beberapa negara Eropa dan penggunaannya terus menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. PD dapat digunakan untuk pasien anak-anak usia berapapun untuk mendapatkan perawatan dengan baik dalam menunggu tujuan utama perawatan yaitu transplantasi ginjal,” jelas dr. Cahyani Gita Ambarsari, SpA, seorang ahli nefrologi.