Menyusui, bisa dikatakan merupakan sebuah momen yang  indah bagi ibu dan anak. Selain memberikan sumber probiotik pertama untuk anak, masa-masa menyusui berdampak luar biasa dalam psikologi seseorang. Itulah sebabnya menyusui adalah sesuatu yang sangat penting.

“Kita mengetahui bahwa menyusui itu sangat powerful, sangat kuat sekali karena mampu membentuk ikatan emosional yang dampaknya luar biasa,” terang Irma Gustiani, M.Psi, Psi. “Kegiatan menyusui itu ada skin to skin contact, kebiasaan yang menimbulkan hormon oksitosin atau love hormone. Itu yang biasanya akan membantu seorang anak bisa survive di kehidupannya,” lanjutnya.

Pada masa menyusui ada banyak aspek yang sangat berpengaruh. Jika secara fisik para ibu bisa menyiapkan fisik secara optimal maka secara psikologis biasanya juga akan lebih mantap dan lebih positif. Hal tersebut juga didukung dengan lingkungan.

Lebih lanjut dikatakan psikolog Irma, menyusui bukan hanya persoalan ibu, karena menyusui ada faktor-faktor lain, di antaranya ada faktor lingkungan, ada faktor support system yang turut membantu bagaimana seorang ibu bisa optimal dalam memberikan atau melakukan laktasi.

Foto: freepik

Dukungan keluarga dan juga lingkungan terdekat, dijelaskan oleh Irma, sebagai hal yang mampu memberikan semangat dan kepercayaan diri kepada ibu selama menyusui.

Namun ada kalanya proses menyusui terhambat karena faktor psikologis ibu, baik itu stress karena perubahan gaya hidup dan tanggung jawab yang lebih besar atau malu menyusui di tempat umum. Untuk membantu meringankan beban ibu dan memacu kepercayaan dirinya, keluarga terutama suami perlu memberikan dukungan dan kasih sayang kepada istrinya. Orang-orang terdekat pun diharapkan dapat bantu mewujudkan lingkungan yang ramah menyusui.

Selain itu ibu juga dihadapkan pada tantangan menyusui yang terjadi pada masa kini, karena sering sekali bersentuhan dengan internet dan teknologi canggih, akibatnya banyak sekali informasi-informasi yang mungkin saja tidak benar, atau tidak tepat yang terkait dengan menyusui, mitos-mitos dan lain sebagainya. Akibatnya bisa memengaruhi keadaan psikologis seseorang ibu.

Foto: freepik

Dilanjutkan Irma, ibu jaman sekarang biasanya juga bekerja. Jadi, bekerja kemudian kelelahan, menghadapi traffic dan segala tuntutan, pada akhirnya juga bias menyebabkan kecemasan, kekhawatiran, serta kepanikan. Jadi rasa tidak tenang bagaimana bias memberikan ASI kepada bayi sementara harus bekerja. Sehingga menyulut rasa bersalah secara psikologis dan mengakibatkan kualitas ASI menurun.

Kemudian kurangnya dukungan. Jadi kalau misalnya tidak ada dukungan dari suami atau misalnya keluarga besar, itu biasanya akan sangat mengganggu sekali secara psikologis.

Kemudian yang paling terakhir adalah kelelahan, tidak adanya dukungan, kemudian juga hormon dan lain sebagainya, memunculkan baby blues. Baby blues jadi ini adalah suatu keadaan kecemasan yang tidak bisa diidentifikasi kemudian menimbulkan kegalauan, kesedihan yang mendalam, sehingga hampir biasanya di lima hari hingga satu minggu pertama pasca melahirkan biasanya hampir 50-80% ibu muda itu bisa mengalami baby blues.

Oleh sebab itu, Irma menyarankan bagi para ibu, jangan takut untuk meminta bantuan dan mengekspresikan perasaannya. Karena kebahagiaan ibu adalah salah satu sumber kesehatan bagi ibu dan si kecil.