Jika tidak diawasi dengan benar, anak-anak umumnya lebih memilih jajan, baik itu di sekolah ataupun di lingkungan rumah. Alasannya adalah rasa tampilan yang lebih menarik dan rasa yang gurih. Sebagai orangtua, Medika Friends perlu memerhatikan beberapa hal mengenai jajanan anak, apalagi anak-anak tidak mengetahui apa saja kandungan di dalam jajanan tersebut.

Menurut data BPOM tahun 2014, dalam kurun waktu 4 tahun angka persentase Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) yang memenuhi persyaratan keamanan pangan meningkat dari sekitar 56 % pada tahun 2010 menjadi lebih dari 76% pada akhir 2014. Berdasarkan jenis cemaran, persentase PJAS yang tercemar bahan berbahaya turun dari 18% pada tahun 2010 menjadi 9 % pada tahun 2014.

Penggunaan BTP yang melebihi takaran pada PJAS juga menurun dengan persentase 23% pada tahun 2010 menjadi 16% pada tahun 2014. Namun demikian masih terdapat tantangan besar untuk memperbaiki kualitas PJAS di Indonesia.

Foto: freepik

Perlu Medika Friends ketahui bahwa komposisi kandungan nutrisi dalam jajanan anak sekolah harus dicermati karena maraknya kandungan Bahan Tambahan Pangan (BTP) berbahaya dalam jajanan anak. Konsumsi pangan atau minuman yang mengandung BTP ini dapat menyebabkan gangguan pada organ dan sistem tubuh anak sehingga proses tumbuh kembang anak tidak berjalan dengan optimal.

Dr.dr. Rini Sekartini, SpA (K), mengungkapkan, proses tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh nutrisi dan stimulasi. Asupan nutrisi yang berkualitas harus memenuhi kaidah gizi seimbang, baik karbohidrat, protein, lemak, vitamin mineral dan juga air.

“Nutrisi tersebut dapat dipenuhi melalui makanan utama dan makanan selingan atau jajanan. Oleh karena itu jajanan sekolah sebagai makanan selingan penting menjadi perhatian kita bersama,” ujar dr. Rini.

“Hal yang penting diperhatikan dalam pemilihan jajanan anak adalah kandungan nutrisi, jumlah kalori, higienitas serta kandungan Bahan Tambahan Pangan (BTP),” lanjutnya.

Foto: freepik

Penggunaan Kandungan Bahan Tambahan Pangan (BTP) atau food additive seperti pewarna sintesis, pengawet berlebih, yang melewati batas yang sudah diuji/diperbolehkan BPOM dan bahan tambahan bukan untuk pangan seperti boraks, formalin dan pewarna tekstil bila dikonsumsi akan memiliki efek samping yang bersifat individual atau berbeda-beda pada setiap orang.

dr. Rini juga mengatakan bahwa BTP yang melewati batas uji memungkinkan timbulnya masalah kesehatan, seperti reaksi alergi pada kulit maupun saluran nafas sehingga berbahaya bagi penderita asma. Selain itu dapat menyebabkan perlukaan pada lambung ataupun gejala lain seperti migrain, kelelahan, kesulitan tidur, mual dan muntah, tidak nafsu makan, diare serta dampak jangka panjang yang dapat merusak fungsi hati. Oleh karena itu masyarakat diharapkan agar mencermati kandungan nutrisi dalam jajanan anak selain juga kadar higienitas jajanan tersebut.

Jika terjadi masalah kesehatan pada anak, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter untuk mencegah munculnya dampak yang lebih parah. Gunakan selalu Medika App dalam melakukan perjanjian bertemu dokter di klinik atau rumah sakit favorit keluargamu.