Asthma bronchiale atau asma, merupakan salah satu penyakit yang sangat mengganggu penderitanya terutama karena tidak dapat bernapas dengan lega. Sedikit banyak, gangguan ini kerap memengaruhi kualitas hidup penderitanya, bahkan jika tidak ditangani dengan benar akan mengancam nyawa.

Dikatakan dr. Prasenohadi, SpP, KIC, PhD, kebanyakan pasien asma baru datang ke dokter atau unit emergensi pada waktu serangan yang sangat mengganggu karena sesak napas dan batuk berdahak. “Keadaan ini disebut eksaserbasi akut yang dipicu oleh berbagai faktor seperti flu, terpapar allergen, kelelahan, stress, dan saat ini yang paling parah adalah paparan asap kebakaran hutan dengan magnitude yang sangat luas,” ungkap dr. Prasenohadi.

Serangan asma akut pada penderita asma berat dapat mengancam jiwa karena dapat mengakibatkan gagal napas yang harus ditangani ICU, dan jika diperlukan harus dibantu oleh ventilasi mekanik.

Asma mengancam jiwa merupakan manifestasi klinis asma akut terberat dan biasanya disertai dengan gagal napas, penurunan kesadaran serta risiko henti napas sehingga membutuhkan perawatan di ICU. Beberapa faktor risiko yang menyebabkan asma dapat mengancam jiwa yaitu riwayat asma yang membutuhkan intubasi dan ventilasi mekanis dan riwayat perawatan di RS atau kunjungan ke IGD karena asma dalam satu tahun terakhir.

Lalu, pada saat terjadinya serangan, pasien sedang memakai dan baru menghentikan penggunaan obat antiradang (kortikosteroid) oral atau tidak sedang menggunakan obat antiradang (kortikosteroid) inhalasi. Selain itu, pasien sangat bergantung terhadap obat pelega (bronkodilator) kerja singkat terutama pasien yang menggunakan lebih dari satu kanister (atau ekuivalen) dalam satu bulan, riwayat gangguan psikiatri atau masalah psikososial termasuk penggunaan obat sedasi, dan riwayat tidak patuh dengan pengobatan obat asma.

Foto: freepik

Namun jika ditangani dengan benar, penyakit asma dapat dikontrol sehingga tidak mengganggu aktivitas penderitanya. Meskipun tidak dapat disembuhkan secara total, tujuan dari pengobatan asma adalah untuk mengendalikan penyakit tersebut, yang dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini :

  1. Menjalin hubungan antara pasien dan dokter: Edukasi asma kepada pasien.
  2. Mengidentifikasi dan mengurangi paparan dengan faktor risiko.
  3. Pengobatan asma dengan menggunakan obat pelega dan pengontrol.
  4. Monitor asma: Menggunakan dairy asma (catatan harian yang dimiliki penderita asma untuk mencatat keadaan jalan napas pagi dan malam, serta jumlah kebutuhan obat setiap hari).
  5. Mengelola asma eksaserbasi: Menggunakan obet reliever saat serangan.
  6. Pertimbangan khusus.

Selama ini mungkin sebagian besar masyarakat lebih mengenal inhaler sebagai pengobatan yang sering digunakan bagi penderita asma. Inhaler memungkinkan obat untuk langsung menuju ke paru-paru. Namun tidak semua inhaler digunakan dengan cara yang sama, sehingga perlu memerhatikan cara yang tepat sebelum menggunakan inhaler.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyarankan stepdown therapy untuk penanganan asma yaitu memulai pengobatan dengan upaya menekan inflamasi jalan napas dan mencapai keadaan asma terkontrol sesegera mungkin, dan menurunkan terapi sampai seminimal mungkin dengan tetap mengontrol asma. Bila terdapat keadaan asma yang tetap tidak terkontrol dengan terapi awal/maksimal tersebut (misalnya setelah 1 bulan terapi), maka pertimbangkan untuk evaluasi kembali diagnosis sambil tetap memberikan pengobatan asma sesuai beratnya gejala.