Bagi seorang ibu, mengandung selama kurang lebih sembilan bulan lamanya dengan segala risiko yang harus ditanggung, merupakan suatu kebanggaan. Momen membahagiakan tersebut bisa dikatakan mengalahkan segalanya, sehingga calon ibu sangat menjaga kesehatan serta perkembangan janinnya.

Namun ada beberapa calon ibu yang proses kehamilannya kurang lancar, mengalami hambatan sejak awal kehamilan hingga proses persalinan. Hambatan yang kerap terjadi adalah kelahiran prematur, yaitu persalinan yang terjadi sebelum waktunya. Seperti dikatakan dr. Febriansyah Darus Sp.OG, persalinan prematur ialah proses persalinan yang terjadi pada usia kehamilan yang kurang dari 36 minggu.

Penyebab persalinan prematur umumnya dipicu beberapa faktor, diantaranya adalah karena kecapekan dan kelelahan, dimana bila kedua faktor ini terjadi bisa mengeluarkan zat prostaglandin. Zat ini dapat memacu kontraksi pada ibu hamil sehingga bayi lebih cepat proses keluarnya.

Kemudian infeksi yang terjadi pada masa kehamilan, seperti keluarnya keputihan yang banyak hingga mengakibatkan rasa gatal dan warna berubah. Hal tersebut dapat menimbulkan kontraksi juga yang bisa membuat ibu mengalami persalinan prematur.

Foto: freepik

dr. Febriansyah Sp.OG menambahkan, pemicu lain persalinan prematur adalah terjadinya infeksi pada saluran kemih, atau disebut bakteriuria asimtomatik, yang dapat menyebabkan infeksi pada dinding rongga amnion (ketuban). Sehingga mengakibatkan ketuban pecah dini dan berisiko pada persalinan prematur.

Atau disebabkan oleh kurangnya kadar hormon progesterone di dalam tubuh ibu hamil yang menurun dan merangsang hormon oksitosin yang mengakibatkan persalinan prematur. Ada juga prematur karena riwayat penyakit sang ibu, sehingga bayi harus dipaksa lahir. Seperti hipertensi dan penyebab lain, yaitu mulut rahim yang pendek dengan ukuran di bawah batas normal sebesar empat sentimeter.

Meski demikian, Medika Friends yang sedang hamil jangan lantas parno dengan risiko persalinan prematur, karena masih bisa dicegah. Salah satunya dengan melakukan antenatal care atau ANC, yaitu pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan ibu. Kemudian jika di usia kehamilan 28 minggu sering timbul kontraksi maka segeralah diskusikan kedokter dan minta untuk diberi obat penghilang kontraksi.

Cara lain yang disampaikan oleh dr. Febriansyah Sp.OG yaitu pastikan kondisi kehamilan dalam keadaan yang baik, dengan kata lain harus terkontrol perkembangan janinnya. “Bagi ibu yang memiliki riwayat penyakit seperti darah tinggi dan gula maka harus control dengan baik sehingga dapat mencegah melahirkan pada usia yang belum cukup. Konsumsi air putih yang banyak supaya urin tidak terlalu pekat dan faktor lain tidak bisa dideteksi yang harus melalui pemeriksaan medis,” tutup dr. Febriansyah.