Fibrilasi Atrium atau FA, seperti dikatakan Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, FasCC, merupakan kelainan irama jantung berupa detak jantung yang tidak regular sering dijumpai pada populasi di dunia dan di Indonesia. Namun sangat disayangkan pengetahuan dan kepedulian tentang FA sampai saat ini masih rendah, padahal FA dapat menyebabkan bekuan darah di jantung yang bila lepas ke sirkulasi sistemik dan dapat menyebabkan stroke.

“Penderita FA memiliki risiko 5 kali lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan orang tanpa FA. Kelumpuhan merupakan bentuk kecacatan yang sering dijumpai pada kasus stroke dengan FA. Pada 37% pasien FA usia kurang dari 75 tahun, stroke iskemik merupakan gejala pertama yang didapati,” ungkap Prof Yoga.

Di Indonesia, banyak insiden kelumpuhan akibat FA terjadi pada usia produktif, yaitu di bawah usia 60 tahun. “Pasien yang datang ke RS biasanya sudah dalam keadaan lumpuh dan setelah diperiksa ternyata disebabkan oleh FA. Salah satunya kelumpuhan dalam berbicara atau sulit berbicara, sebanyak 40% kelumpuhan sulit berbicara diakibatkan karena FA,” kata Prof. Yoga melanjutkan.

Foto: freepik

Kelumpuhan yang diderita pasien FA memiliki ciri khusus, seperti memiliki tingkat keparahan yang tinggi, bersifat lama dan sering berulang (relapse). Rata-rata, sekitar 50% pasien yang terkena stroke ini akan mengalami stroke kembali dalam jangka waktu satu tahun.

Mengenai terapi advanced yang dapat dilakukan bagi pasien FA saat ini, ia menerangkan, setidaknya terdapat 3 teknik yang dapat dilakukan yaitu teknik Ablasi kateter, melakukan pemasangan alat LAA Closure, serta pemakaian Obat Antikoagulan Oral Baru (OKB). Terapi ini berperan besar dalam menurunkan risiko serangan stroke karena FA yang berakibat kelumpuhan.

Oleh sebab itu sangat diharapkan semua pihak, baik pemerintah, swasta, memberi dukungan dalam mengatasi FA di Indonesia. Terutama saat ini pada pemberdayaan masyarakat, dimana masyarakat diajak untuk ikut andil dan mengetahui bagaimana mendeteksi FA. Masyarakat diajak untuk lebih memperhatikan denyut dengan cara ‘menari’, yang jika dilakukan dengan benar dan ternyata ditemukan ada kelainan, masyarakat dihimbau untuk segera mengkonsultasikannya ke dokter.

Foto: freepik

“Tindakan ini diharapkan dapat menurunkan risiko stroke akibat FA yang sebagian besar mengakibatkan kecacatan atau kelumpuhan,” papar Prof. Yoga.

‘Menari’ adalah singkatan dari meraba nadi sendiri. Maksudnya adalah, melakukan pemeriksaan denyut nadi di tangan dengan menempelkan jari pada pergelangan tangan di sebelah sisi yang sejajar dengan jempol. Raba bagian tersebut, tekan jangan terlalu lemah atau kuat kemudian rasakan denyutnya. Jika iramanya tidak beraturan, misalnya berubah-ubah antara tidak terlalu cepat atau tidak terlalu lambat, terasa seperti drum, atau gemuruh Guntur, maka Medika Friends perlu memeriksakan kesehatan jantung kepada dokter.

Prof. Yoga mengatakan, pemeriksaan dini dengan meraba nadi sendiri ini penting, karena kalau dilakukan secara rutin akan berdampak besar. Lebih lanjut Prof. Yoga mengungkapkan bahwa kejadian FA lebih banyak terjadi pada siang hari meskipun ada juga yang mengalami saat malam hari atau ketika tidur. “Saya kira yang paling bagus setidaknya melakukan menari ini sehari sekali, pada pagi hari. Khususnya ditekankan pada mereka yang berusia 60 atau 65 tahun ke atas,” jelas Prof. Yoga.