Medika Friends pasti menyadari betapa pentingnya organ hati bagi tubuh. Salah satu fungsi organ terbesar kedua dalam tubuh ini adalah untuk memecah lemak dari makanan yang dikonsumsi dan menyimpannya di jaringan adiposa. Namun seringkali orang tidak menyadari adanya gangguan yang menyerang hati, seperti hepatitis. Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika seorang ibu menularkan hepatitis kepada bayinya.

Perlu Medika Friends ketahui, hepatitis merupakan penyakit peradangan pada organ hati manusia yang dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti virus, bakteri, obat-obatan, alkohol, dan zat berbahaya lainnya.  Penyakit hepatitis yang disebabkan oleh virus merupakan penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat yang umum terjadi di negara berkembang dan berdampak pada kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Prof. DR. Dr. David Handojo Muljono SpPD, FINASIM, PhD menjelaskan bahwa beban penyakit hepatitis bagi negara cukup signifikan. Di samping menyebabkan kesakitan dan kematian, hepatitis B dan C mengakibatkan kerugian sosio-ekonomi yang besar. Keparahan penyakit yang justru terjadi pada usia produktif sehingga investasi keluarga dan negara dalam asuhan (sejak kecil menjadi dewasa), pendidikan, dan ekonomi, menjadi sia-sia dan menyebabkan hilangnya produktivitas generasi yang terinfeksi penyakit ini. Semua ini diperparah dengan beban keluarga dan negara merawat penderita, serta biaya pengobatan yang amat besar.

Pada kesempatan yang sama, Dr. dr. Hanifah Oswari, SpA (K) menjelaskan, “Proses penularan hepatitis B dari ibu kepada bayi walaupun dapat terjadi selama masa kehamilan tetapi sebagian besar (95%) terjadi pada proses persalinan. Bayi yang tertular hepatitis B akan tumbuh dengan penyakit tersebut tanpa menunjukkan gejala, tetapi dapat berkembang menjadi hepatitis kronis atau sirosis hati pada saat anak-anak atau dewasa,” terangnya.

Foto: freepik

“Bahkan, kondisi tersebut sewaktu-waktu dapat menjadi kanker hati karena hepatitis B. Untuk itu, ibu hamil dengan risiko hepatitis sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan apakah dirinya HBsAg positif atau negative,” lanjut dr. Hanifah.

Selanjutnya, dr. Hanifah juga menjelaskan bahwa bayi dari ibu dengan status HBsAg negatif atau tidak diketahui akan diberikan imunisasi aktif dengan pemberian HB 0 kurang dari 24 jam setelah lahir bersamaan dengan pemberian vitamin K-1. Bayi dari ibu dengan HBsAg positif akan diberikan imunisasi immunoglobulin kurang dari 24 jam setelah lahir bersamaan dengan pemberian HB 0 pada paha yang berbeda kemudian diikuti dengan imunisasi hepatitis B sesuai dengan program imunisasi nasional yaitu pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Saat bayi ini berusia 9-12 bulan, akan dilakukan tes HBsAg serta titer anti HBs.

Pada dasarnya penyakit hepatitis dapat dicegah dan diobati. Tata laksana pengobatan mulai dari vaksinasi, pemeriksaan HBV, biopsi hati, monitoring pasien, pencegahan umum dan khusus, hingga konseling dan terapi bisa dilakukan di Indonesia. Sedangkan upaya pencegahan yang sebaiknya dilakukan adalah menali penyakit hepatitis, jaga kebersihan dan kesehatan diri serta lingkungan, hindari faktor resiko, lakukan deteksi dini, serta lakukan pengobatan hingga benar-benar bebas dari hepatitis jika telah terinfeksi.