Aritmia, atau juga dikenal sebagai gangguan irama jantung memang tidak sepopuler penyakit jantung koroner (PJK). Meskipun begitu aritmia cukup menyumbangkan angka yang tinggi pada kematian dan pengaruh terhadap kualitas hidup seseorang di Indonesia.

Sebagai salah satu penyakit jantung yang dapat menimbulkan kematian mendadak, didapati bahwa 87% dari data pasien penyakit jantung koroner yang meninggal mendadak di Indonesia menderita aritmia. Ini berarti jika tidak dikenali dan ditangani dengan tepat aritmia sangat membahayakan.

Sebelum lebih jauh membahas tentang aritmia, perlu Medika Friends ketahui bahwa aritmia pada dasarnya terjadi karena adanya gangguan produksi impuls (rangsangan tiba-tiba) atau abnormalitas penjalaran impuls listrik ke otot jantung. Sedangkan gejala tersering yang dirasakan adalah berdebar.

“Berdebar merupakan gejala tersering aritmia. Keleyengan, pingsan, stroke hingga kematian mendadak,” papar Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP (K).

Namun demikian, berdebar yang dimaksud bukan hanya terbatas pada denyut jantung yang cepat. Tapi biasanya pasien mengeluh berdebar ketika denyut jantungnya cepat maupun lambat, tidak teratur, terasa lebih kuat, ada jeda bahkan saat terasa sakit dada. Oleh karena itu di dalam kedokteran istilah berdebar didefinisikan sebagai kesadaran akan denyut jantung yang digambarkan sebagai sensasi nadi yang tidak nyaman atau gerakan di sekitar dada.

Foto: freepik

“Biasanya berdebarnya itu seperti seakan-akan ada seperti drum yang bertalu. Bisa juga dengan debaran yang skip, debaran kadang muncul dan kadang bisa hilang,” terang Prof. Yoga. “Umumnya gejala ini ditemui oleh kelompok usia 60 tahun ke atas. Kadang debarannya juga terasa seperti ada lompatan dalam dada,” lanjutnya.

Pasien yang lebih cepat diidentifikasikan gejala aritmianya dapat langsung ditangani dengan metode yang tepat. Tiga metode yang bisa langsung diterapkan antara lain adalah pemasangan defibrillator kardioverter implan (DKI) untuk mencegah kematian mendadak, obat antikogulan oral baru (OKB) untuk mencegah stroke, dan teknik ablasi kateter untuk penyembuhan aritmia yang memiliki detak jantung cepat melebihi 100 kpm.

Namun meskipun penanganan aritmia penting, tidak diimbangi dengan peminatan terhadap bidang aritmia. Dikatakan Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP (K), hanya ada 28 orang subspesialis aritmia dari 1.000 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang ada saat ini. Dalam kurun waktu 15 tahun, subspesialis aritmia hanya bertambah 26 orang saja. Aritmia seringkali dianggap sulit dipelajari karena harus dipahami dalam konteks mekanisme yang bersifat virtual. Struktur anatomi yang melatarbelakangi aritmia tidak kasatmata tetapi harus dibayangkan. Hal ini menjadikan aritmia unik dan membutuhkan upaya yang lebih banyak untuk mempelajarinya.

“Kemajuan di bidang aritmia belum bisa dinikmati secara luas oleh pasien-pasien di Indonesia karena sampai saat ini masih terdapat kendala besar dalam pelayanan aritmia di Indonesia, antara lain masih minimnya dokter subspesialis aritmia,” ujar Prof. Yoga.

“Mengingat besaran masalah aritmia dan kendala layanan yang dihadapi di Indonesia, saya menyerukan agar semua pihak meningkatkan kepedulian terhadap penyakit ini,” lanjut Prof. yoga menutup perbincangan.