Hampir semua orang mengetahui tentang penyakit kardiovaskular, atau penyakit yang disebabkan oleh gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah. Namun tidak semua orang memahami apa yang dimaksud dengan Cardiovascular Desease (CVD), yang mana terdiri dari penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskular (otak dan pembuluhnya), penyakit pembuluh darah perifer, penyakit jantung rematik, penyakit jantung bawaan, gagal jantung, aritmia dan penyakit katup, thrombosis vena dalam dan emboli paru2.

Ketidaktahuan ini yang tak jarang membuat orang kurang aware dengan kesehatannya, terutama jantung. Padahal penyakit jantung paling sering datang secara mendadak dan merenggut nyawa penderitanya kapanpun dan dimanapun. Terkadang menyerang saat sedang santai, ketika berjalan-jalan, atau bahkan saat sedang berkendara.

Dr. dr. Basuni Radi, Sp.JP(K) mengatakan bahwa serangan jantung tentu saja ada berbagai penyebab, misalnya saat menyetir, yang meskipun termasuk aktivitas ringan namun seringkali ditemukan laporan bahwa kejadian serangan jantung terjadi saat menyetir. “Yang paling sering dan tiba-tiba itu gangguan irama jantung, dan yang kedua sering dilaporkan adalah karena penyakit gangguan koroner,” terang dr. Basuni.

Foto: freepik

Gangguan irama jantung dapat terjadi karena adanya gangguan produksi impuls atau abnormalitas penjalaran impuls listrik ke otot jantung. Sedangkan penyakit jantung koroner, yang tidak dipungkiri lebih akrab di telinga masyarakat, merupakan suatu gangguan fungsi jantung dimana otot jantung kekurangan supply darah yang disebabkan karena adanya penyempitan pembuluh darah koroner.

“Jadi tiba-tiba ada pembuluh darah yang mampet atau tersumbat sehingga otot jantungnya itu kekurangan oksigen,” ungkap dr. Basuni. “Orang merasa sakit (dada sebelah kirinya), sampai sesak tiba-tiba, dan karena sedang menyetir ya jadi panik,” lanjut dr. Basuni.

Tentu saja yang perlu dilakukan ketika mengalami serangan jantung saat berkendara adalah harus mengurangi kebutuhan oksigen otot jantung, karena seperti kita ketahui kalau orang panik maka denyut jantungnya akan cepat. Saat denyut jantung cepat, tensi menjadi naik sehingga kebutuhan oksigen pun naik.

“Jadi utamanya dia harus beristirahat dan berusaha tenang agar denyut dan tensi turun. Nggak panik, itu yang bisa dilakukan sementara itu,” kata dr. Basuni.

Foto: pixabay

Kemudian, pastikan ada orang yang menolong, karena jika Medika Friends harus menyetir sendiri dengan panik dan stress, justru akan semakin berat. Setidaknya ada waktu sekitar 20-30 menit untuk sebisa mungkin sampai ke lokasi orang yang bisa menolong seperti Puskesmas, klinik, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan lain.

Berikutnya adalah mendapatkan pertolongan pengobatan dari orang yang profesional kesehatan untuk menangani masalah serangan jantung tersebut, karena diperlukan pemeriksaan dan obat.

Oleh sebab itu, untuk mengurangi risiko terjadinya serangan jantung mendadak, maka dr. Basuni menganjurkan untuk melakukan screening atau pemeriksaan sedini mungkin. Apalagi jika sudah ada keluhan yang sering terjadi secara konsisten. “Untuk mendeteksi dari awal, sejak usia 20 tahun-an sudah mulai mengetahui kesehatannya. Sedangkan kalau sudah 40 tahun ke atas sudah harus periksa lengkap, deh” terang dr. Basuni.

“Meskipun tidak ada keluhan, saat umur 20 dilakukan pemeriksaan untuk me-screening faktor risiko. Saat umur 40 tahun untuk menghitung risikonya, seberapa besar kemungkinan risiko mengalami serangan jantung, meninggal, stroke, dan lain-lain. Dan untuk memperkirakan tata laksana atau pemeriksaan selanjutnya, apa yang harus dilakukan,” papar dr. Basuni menutup  perbincangan.