Friends, berbicara mengenai tiroid, pada dasarnya penyakit tiroid dapat dibedakan menjadi tiga kelompok utama, yaitu gangguan fungsi tiroid, gangguan tiroid akibat kekurangan yodium, dan benjolan atau nodul tiroid. Oleh sebab itu masyarakat diharapkan mewaspadai jenis-jenis penyakit tiroid tersebut, termasuk salah satunya yaitu nodul tiroid.

Nodul tiroid, atau benjolan pada kelenjar tiroid, dikatakan dr. Dante Saksono Herbuwono, SpPD, K-EMD, PhD, sebenarnya jumlah yang ditemukan cukup banyak di populasi bahkan jika dilakukan General Check Up dengan USG, angkanya bisa mencapai 50% dari populasi. Namun untungnya hanya sekitar satu sampai lima persen dari benjolan tersebut yang sifatnya ganas (kanker). “Benjolan di dalam tiroid dapat merupakan benda padat atau berisi cairan dan berdasarkan fungsinya bisa normal, hiper- maupun hipo-tiroid,” terang dr. Dante.

Foto: pixabay

Kanker tiroid merupakan kanker yang pertumbuhannya lambat, pada tahap awal hampir tidak memiliki gejala tetapi pada beberapa pasien dapat menimbulkan gejala, antara lain sakit tenggorokan, kesulitan dalam menelan, perubahan suara menjadi serak, rasa sakit pada bagian leher, atau sesak napas. Pada beberapa pasien juga dapat disertai pembesaran kelenjar getah bening di bagian leher yang biasanya tidak nyeri.

Kelompok orang yang berisiko lebih tinggi untuk menderita kanker tiroid adalah orang-orang yang memiliki riwayat kanker tiroid di keluarga, faktor genetik, riwayat mendapat paparan radioaktif di daerah leher, dan merokok. Di samping itu kanker tiroid juga tiga kali lebih banyak ditemukan pada wanita daripada laki-laki. Pada wanita paling sering terjadi pada usia 40 sampai 50-an tahun sedangkan pada laki-laki biasanya pada usia yang lebih tua.

Untuk mendeteksi kanker tiroid dapat dimulai dengan mengetahui apakah ada benjolan di dalam kelenjar tiroid. Jika ukuran benjolan cukup besar, biasanya sudah langsung terlihat di leher. Ciri khas dari benjolan yang berasal dari tiroid adalah benjolan tersebut ikut bergerak pada saat menelan.

USG tiroid merupakan salah satu pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan jika mencurigai adanya benjolan di tiroid. Dari gambaran USG dapat dilihat karakteristik benjolan tersebut, apakah cenderung ke jinak atau ganas.

Foto: freepik

Pemeriksaan lain yang juga sangat membantu dalam diagnosis kanker tiroid adalah biopsi aspirasi jarum halus. Tindakan ini relatif mudah dilakukan, dapat dengan atau tanpa panduan USG. Dari hasil aspirasi tersebut akan didapat sel kelenjar tiroid dan dari pemeriksaan laboratorium akan dapat diketahui sel tersebut bersifat jinak atau ganas. Terapi yang utama pada kanker tiroid adalah operasi pengangkatan seluruh kelenjar tiroid.

Kanker tiroid merupakan salah satu jenis kanker yang bisa disembuhkan dengan angka kekambuhan yang relatif kecil. Terapi dengan operasi pengangkatan seluruh kelenjar tiroid, supresi dengan hormon tiroksin, dan bila diperlukan terapi ablasi iodium radioaktif, pada sebagian besar pasien akan diperoleh angka harapan hidup lima atau bahkan sepuluh tahun dapat mencapai 100%. “Oleh karena itu masyarakat diharapkan agar tidak terlalu khawatir, yang penting adalah melakukan deteksi dini, secepatnya berkonsultasi ke dokter jika menemukan adanya benjolan di tiroid, dan agar patuh terhadap tatalaksana yang dianjurkan oleh dokter jika memang terdiagnosa kanker tiroid,” papar dr. Dante.

Meskipun sebagian besar kasus kanker tiroid dapat disembuhkan. Jika diketahui sejak dini dan pasien kanker tiroid menjalani pengobatan dengan baik dan tepat, maka angka harapan hidup (survival rate) dapat mencapai 100 persen. Oleh karena itu, deteksi dini penting untuk dilakukan mengingat kanker tiroid pada tahap awal cenderung tidak menunjukkan gejala sama sekali. Jika menemukan adanya benjolan di leher maka diharapkan segera berkonsultasi dengan dokter untuk menyingkirkan kemungkinan adanya kanker tiroid.