Menjalani puasa di bulan Ramadhan tentu menjadi kewajiban setiap umat muslim di seluruh dunia, baik pria maupun wanita. Meskipun begitu, bagi wanita hamil dan menyusui memiliki dua kondisi yang akan membedakan dalam penentuan hukum boleh atau tidaknya puasa Ramadhan. Yang pertama, jika Ibu hamil mampu puasa dan tidak akan menimbulkan pengaruh buruk bagi janin dan dirinya, maka puasa wajib dilakukan. Sedangkan yang kedua, jika ibu hamil khawatir terhadap kesehatan dirinya atau janin dalam kandungan, maka puasa boleh ditunda.

Foto: pixabay

Seperti dikatakan dr. Riyan Hari Kurniawan, SpOG, “Setelah dilakukan pemeriksaan dan kondisi kesehatan wanita hamil serta janinnya dinyatakan sehat, maka wanita hamil diperbolehkan untuk berpuasa,” kata dr. Riyan.

Namun syarat yang harus dipenuhi ibu hamil saat berpuasa adalah tetap mampu memenuhi kebutuhan nutrisi baik bagi dirinya maupun janinnya. Pemenuhan nutrisi ini harus sama dengan kondisi ketika tidak berpuasa, yang membedakan yaitu pemenuhan nutrisi ini dipindah waktunya, kini dilakukan antara waktu berbuka puasa dan sahur.

Lebih lanjut dr. Riyan menjelaskan, rata-rata kebutuhan nutrisi ibu hamil adalah 2500 Kkal per hari, dimana komposisinya 50% karbohidrat yang sumbernya bisa didapatkan dari nasi, jagung, ubi-ubian, singkong. Lalu 30% protein sebagai zat pembangun, bisa bersumber dari hewani maupun nabati. Protein ini penting sekali karena pembentukan jaringan utama janin adalah dari protein. “Sumber paling tinggi adalah hewani, contohnya ikan, telur, daging, dan susu, atau dari kedelai,” terang dr. Riyan. Sedangkan 20% sisanya adalah lemak, yang bisa didapat dari sumber-sumber yang lain seperti kacang-kacangan.

Dr. Riyan juga mengingatkan kepada para ibu hamil, baik saat bulan puasa maupun tidak, harus selalu mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi. Kenapa? Karena hampir 50% ibu hamil mengalami kondisi kurang zat besi, misalnya anemia. Selain itu ibu hamil juga memerlukan asam folat untuk mencegah bayi mengalami cacat, yang bisa didapat dari sayuran hijau dan kacang-kacangan. “Ibu hamil juga perlu makan yang mengandung kalsium, pada umumnya dari produk susu, dan juga ikan salmon serta sarden.”

Foto: freepik

Meski demikian, dr. Riyan mengatakan bahwa setiap konsultasi ke dokter pada umumnya ibu hamil diberi vitamin. Hal tersebut dikarenakan berdasarkan penelitian, dari makanan yang dikonsumsi ibu hamil itu tidak cukup memenuhi kebutuhan ibu dan janin. Oleh sebab itu untuk memperoleh janin berkualitas baik serta anak yang terlahir cerdas dan sehat, maka memerlukan suplementasi vitamin. Kandungan dasar vitamin tersebut adalah folat, kalsium, dan zat besi, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, meskipun multivitaminnya banyak.

Lantas makanan apa saja yang dikonsumsi saat puasa? Dijelaskan oleh dr. Riyan, hal pertama yang diperhatikan adalah protein serta lemak cukup. Kemudian banyak konsumsi daging, serta vitamin C dan zinc. Namun sebaiknya jangan terlalu banyak makan manis dan cukup minum air putih, karena cairan yang dibutuhkan adalah sekitar 1,8 sampai 2 liter per hari.

“Yang diutamakan adalah segelas susu saat sahur. Waktu berbuka minum minuman hangat dan manis, karena saat puasa kadar gula turun,” terang dr. Riyan.

Menurut dr. Riyan pada prinsipnya jalani saja puasa meskipun hamil, asalkan dalam kondisi baik diperbolehkan puasa. Namun untuk lebih mengetahui kondisi ibu dan janin sebaiknya ditanyakan kepada dokter kandungan untuk dilakukan pemeriksaan.