Tahukah Medika Friends, bulan Mei merupakan bulan peduli lupus, dimana setiap tahunnya di seluruh dunia dilakukan kampanye dan sosialisasi mengenai penyakit tersebut melalui peringatan World Lupus Day. Namun di Indonesia sendiri belum banyak masyarakat yang memahami tentang penyakit lupus. Padahal, jumlah orang dengan lupus (odapus) di Indonesia terbilang cukup besar dan terus bertambah.

Foto: worldlupusday

Prof. Dr. H. Zubairi Djoerban, Sp.PD.KHOM menjelaskan, lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang bisa menyerang beberapa organ tubuh seperti kulit, persendian, darah hingga ginjal, otak, dan organ dalam lainnya. Maksud autoimun adalah suatu kondisi dimana tubuh diserang oleh sistem imun yang semestinya melindungi tubuh sendiri.

Lupus juga seringkali dijuluki ‘penyakit seribu wajah’, mengapa? Seperti dijelaskan Prof. Zubairi, lupus bisa menyerang berbagai organ tubuh berbeda, gejalanya pun berbeda-beda dari pasien yang satu dengan lainnya. “Pasien lupus yang satu jumlah trombositnya rendah, yang satu dengan Hb sangat rendah, yang satu lagi dengan sakit sendi berat, sedangkan yang lain muncul dengan masalah ginjal. Jadi amat beda dari pasien ke pasien,” kata Prof. Zubairi.

Meskipun begitu, Prof. Zubairi mengatakan, gejala yang paling sering muncul pada semua pasien lupus (tanpa memandang jenis kelamin) di antaranya adalah keletihan, sakit kepala, nyeri atau bengkak sendi, demam, anemia, nyeri di dada saat menarik napas panjang, ruam kemerahan di wajah yang polanya seperti kupu-kupu, sensitif terhadap cahaya, rambut rontok, pendarahan yang tidak biasa, mengalami fenomena Raynaud yaitu jari-jari berubah pucat atau kebiruan saat dingin, serta sariawan di mulut atau koreng di hidung.

Oleh sebab itu, selain mencari gejala yang dirasakan, dokter akan meminta pasien melakukan sejumlah tes laboratorium, melihat catatan kesehatan pasien, dan melakukan asesmen untuk mengetahui riwayat keluarga.

Foto: pixabay

Dijelaskan juga oleh Prof. Zubairi, lupus bukanlah penyakit menurun. “Hanya sekitar 7%, amat sangat sedikit penderita yang ibunya lupus dan anaknya juga lupus. Lainnya tidak ada faktor keluarga sama sekali,” terang Prof. Zubairi. Dan hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti lupus, namun diduga kombinasi dari cahaya matahari, zat kimia, obat-obat, genetik, dan hal lainnya berperan dalam hal ini.

Lantas apakah lupus bisa disembuhkan? Beberapa pasien lupus ada yang sudah tidak minum obat, sementara yang minum obat dengan durasi seminggu dua kali juga cukup banyak. Artinya, pengobatan jangka panjang dengan dosis amat rendah bisa dilakukan, tapi di awal tentu diberikan dosis tinggi, baru kemudian secara perlahan dikurangi dosisnya.

Satu hal yang perlu Medika Friends ketahui, penderita lupus dapat berdamai dengan penyakit seribu wajah ini, asalkan minum obat teratur. Di samping itu hindari kekhawatiran yang berlebih. “Khawatir berlebihan itu yang salah. Jadi tidak usah khawatir, karena banyak sekali contohnya, ribuan pasien tetap sehat dengan minum obat lupus,” tutup Prof Zubairi.