Obesitas, atau kegemukan merupakan suatu kondisi kronis di mana terjadi penumpukan lemak di dalam tubuh, serta massa tubuh yang tinggi sehingga melebihi batas yang baik untuk kesehatan.

Jika dibiarkan, obesitas bisa menimbulkan beragam komplikasi, diantaranya adalah penyakit jantung, diabetes melitus, dislipidemia, gangguan pernapasan pada saat tidur, kanker, serta penyakit kardiovaskular lainnya. Lebih jauh lagi, obesitas dapat meningkatkan risiko komplikasi penyakit-penyakit tersebut bahkan kematian jika tidak mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Foto: pixabay

Marlyn C. Malonda, Sp.A mengatakan, obesitas memberikan dampak buruk terhadap tumbuh kembang anak terutama dalam aspek organik dan psikososial. “Obesitas pada anak berisiko tinggi menjadi obesitas pada masa dewasa,” ungkapnya.

Penanganan obesitas pada anak pada dasarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan melakukan penanganan perilaku berbasis keluarga, terutama dalam hal makan, dengan mengurangi lemak serta melakukan diet, modifikasi gaya hidup, melakukan aktivitas fisik, konsumsi obat yang diresepkan oleh dokter, dan opsi lainnya adalah dengan pembedahan pada kasus obesitas yang ekstrim.

Pembedahan yang dilakukan disebut bedah bariatrik, yaitu teknik operasi pengecilan dan bypass lambung yang bertujuan untuk menurunkan berat badan guna mengatasi obesitas. Teknik ini sudah umum dilaksanakan di negara maju, Karena terbukti efektif menurunkan berat badan yang dapat bertahan dalam jangka panjang.

Dikatakan dr. Handy Wing, Sp.B, FBMS, FINACS, FICS, saat ini operasi bariatrik dipandang sebagai terapi yang paling efektif mengatasi obesitas dengan efek bonus tambahan mengontrol penyakit diabetes, namun metode ini belum populer di Indonesia dan belum banyak diketahui oleh pasien obesitas.

Metode bedah bariatrik dilakukan dengan teknik laparoskopi atau disebut juga invasive surgery, yaitu operasi yang dilakukan melalui lubang sayatan kecil berukuran satu cm sebanyak tiga hingga empat buah. Sehingga rasa nyeri yang ditimbulkan akan jauh berkurang, selain itu bekas luka sayatan pun sangat kecil.

Foto: freepik

Salah satu teknik operasi bariatrik yang paling populer adalah Sleeve Gastrectomy, yaitu operasi untuk mengecilkan lambung hingga sepertiga ukuran lambung aslinya. Dengan ukuran lambung yang lebih kecil ini maka akan membatasi porsi makan. Sehingga setelah operasi, pasien akan merasa cepat kenyang dan rasa lapar berkurang akibat menurunnya hormone Ghrelin. Meskipun begitu sisa lambung yang ada tetap mempertahankan fungsi normal proses pencernaan.

Namun yang perlu diperhatikan adalah, tidak semua penyandang obesitas dengan diabetes dianjurkan menjalani operasi bariatrik. Idealnya, pasien di bawah usia 60 tahun dengan kondisi belum terlalu lama menderita diabetes serta memiliki fungsi pankreas yang cukup baik yang masuk dalam kandidat. Sedangkan pasien dengan gula darah yang masih stabil serta terkontrol dengan obat-obatan, tidak masuk ke dalam kandidat untuk memilih dan menjalani metode operasi bariatrik ini.

Lebih jauh Dr. Marlyn menjelaskan, tindakan operasi atau pembedahan hanya akan disarankan jika pengobatan lain gagal, dan jika anak telah melalui masa pubertas atau jika dia sangat gemuk dan memiliki masalah kesehatan lainnya. Pembedahan harus dimulai dengan terlebih dahulu mempelajari riwayat kesehatan sang anak.