Memiliki momongan merupakan suatu hal yang membahagiakan bagi setiap orangtua. Terutama bagi ibu, yang selama sembilan bulan mengandung dan menanti kehadiran buah hati ke dunia, hingga akhirnya merasa lega telah melewati proses melahirkan dengan lancar. Namun dalam beberapa kesempatan, didapati beberapa ibu atau calon ibu yang justru mengalami kehawatiran berlebih, merasa sedih, dan emosi. Jika begitu, bisa saja sang ibu mengalami baby blues syndrome.

Foto: freepik

Apa sih baby blues syndrome itu?

Dikatakan dr. Arundhati N. Aji, SpKJ, baby blues syndrome termasuk dalam golongan depresi. Biasanya tanda-tanda terjadinya sudah mulai terlihat sebelum melakukan persalinan, atau bisa juga muncul setelah persalinan. “Jadi seperti tanda-tanda depresi pada umumnya, tapi baby blues terkait erat dengan persalinan,” kata dr. Arundhati.

Baby blues syndrome dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang saling terkait, yaitu biologis, psikologis, dan sosial (biopsikososial). Pertama adalah sisi biologis ibu yang bermasalah, biasanya dalam hal persalinan ini berhubungan dengan hormonal. Dimana ibu yang baru melahirkan mengalami perubahan hormon yang sangat drastis, sehingga mengalami rasa lelah, bingung, dan penurunan mood yang signifikan.

Kemudian secara psikologis, dapat saja terganggu ketika ibu ternyata belum siap menyandang gelar sebagai seorang ibu. “Kalau ibu semakin tidak siap menghadapi perubahan hidup dan peran barunya, maka ini akan lebih rentan terjadi,” ujar dr. Arundhati.

Sedangkan faktor ketiga adalah sosial, yaitu lingkungan sekitarnya. Misalnya dari suami atau keluarga, yang ternyata tidak me-support atau memberi bantuan dalam bentuk apapun sehingga ibu merasa tidak nyaman.

Pada umumnya baby blues syndrome berlangsung hanya selama dua atau tiga minggu pasca melahirkan. Namun hal ini dapat menjadi sesuatu yang membahayakan jika sampai mengalami depresi mayor, atau gangguan depresi yang sebenarnya. Yaitu sampai melewati batas waktu tertentu masih depresi, diam saja, tidak mau makan, bahkan dapat memiliki pikiran bunuh diri. Dengan kata lain tidak terkait lagi dengan masalah persalinanya, dia sudah berdiri sendiri.

Foto: freepik

Lantas bagaimana mengatasinya? dr. Arundhati mengatakan, untuk mengatasinya juga secara biopsikososial. Seperti, melakukan konsultasi ke psikiater sehingga dapat ditentukan seberapa butuh minum obat. Kemudian mendapatkan bantuan secara psikologis dengan psikoterapi, melalui wawancara atau perbincangan. Serta diberikan dukungan sosial oleh lingkungan terdekat, terutama suami.

Terkait dukungan orang terdekat, dr. Arundhati mengatakan ada penelitian yang menyatakan bahwa suami yang lebih mendukung, care, dan selalu mendampingi, angkanya menjadi lebih rendah.

Oleh sebab itu dr. Arundhati menyarankan kepada calon ibu agar mempersiapkan diri sebelum menikah dan merencanakan memiliki anak. Juga, sebaiknya sudah mengetahui risiko serta konsekuensi kedepannya. Jika masih merasa belum mampu memperkirakan bagaimana jadi seorang ibu maka cari referensi. “Banyak baca, tanya orang yang mengerti, dan jangan asal tanya ke orang yang belum mengerti. Karena jika salah mendapat informasi justru menjadi takut sendiri, dan semakin cemas,” tutup dr. Arundhati.