Angka obesitas di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Parahnya, obesitas bukan hanya mengancam anak-anak saja tapi juga orang dewasa. Data Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa sebanyak lebih dari 40 juta orang dewasa di Indonesia mengalami kegemukan. Sementara data lain dari Riskesdas 2013 juga mengatakan obesitas di Indonesia lebih banyak dialami wanita dibandingkan pria.

Apa sih obesitas? Obesitas merupakan suatu kondisi kronis di mana terjadi penumpukan lemak dan di dalam tubuh serta massa tubuh yang tinggi sehingga melebihi batas yang baik untuk kesehatan.

Foto: pixabay

Hingga kini masih banyak orang yang kurang aware terhadap kelebihan berat badan dan risikonya, sehingga tidak sedikit yang memiliki keyakinan bahwa gendut bukanlah masalah, yang penting sehat. Namun ternyata badan gemuk pun bukan berarti sehat, justru mengarah pada munculnya berbagai penyakit. Dikatakan Dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, SpJP(K), FIHA, obesitas dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit, termasuk hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, obstruktif sleep apnea dan gangguan pernapasan pada saat tidur, kanker serta penyakit kardiovaskular utama lainnya.

“Obesitas dapat memengaruhi struktur kardiovaskular dan fungsinya, sehingga dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular seperti gagal jantung, penyakit jantung koroner, kematian mendadak dan fibrilasi atrial dan tentunya dihubungkan pula dengan menurunnya angka harapan hidup,” kata dr. Ario.

Pada keadaan obesitas, terjadi kenaikan volume darah dalam tubuh dan curah jantung cardiac output. Hal ini dikarenakan tubuh yang lebih besar memerlukan lebih banyak darah sehingga jantung pun akan memompa darah lebih banyak daripada sebelumnya. Sehingga jantung akan bertambah besar agar bisa mengalirkan lebih banyak darah pada setiap detakan.

Foto: freepik

Peningkatan aliran darah dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, yang merupakan penyebab utama penyakit jantung. Walau tekanan darah tidak bertambah, jantung bisa menderita beban kerja yang bertambah. Saat ruang jantung membesar, kemampuan meremasnya akan berkurang. Pada akhirnya, jantung tidak dapat mengeluarkan darah pada tiap detak jantung. Saat darah mulai menggenang di jantung, Anda dapat mengalami gagal jantung kongestif.

Selain itu dengan meningkatnya tekanan pengisian dalam jantung, penderita obesitas sering mengalami pelebaran dan penebalan rongga jantung serta pelebaran bilik jantung (atrial) yang dapat meningkatkan kejadian fibrilasi atrial. Akibat obesitas, terjadi pula perubahan fungsi jantung dalam melakukan pompa jantung atau pun dalam hal pengisian jantungnya. Kelainan ini dapat menimbulkan keluhan seperti cepat lelah, sesak napas ataupun dada yang terasa berat. Apabila tidak mendapatkan intervensi atau penanganan medis yang tepat, maka hal ini dapat meningkatkan risiko kematian.

Dikutip dari Perhimpunan Kardiovaskular Indonesia (PERKI) bahwa hingga saat ini penyakit jantung dan pembuluh darah masih merupakan pembunuh nomor satu di dunia dimana setiap tahunnya bertanggung jawab terhadap 17,5 juta kematian. Diperkirakan pada 2030 jumlah kasus akan meningkat sampai 23 juta kematian per tahunnya”.

Dua hal utama yang menyebabkan seseorang terkena obesitas adalah pola makan yang buruk dan kurangnya aktivitas fisik. Seseorang yang banyak mengonsumsi makanan tinggi kalori dalam bentuk gula dan lemak, ditambah gaya hidupnya yang tidak banyak bergerak, akan rentan untuk mengalami obesitas. Selain faktor makanan dan gerak fisik, obesitas juga bisa disebabkan oleh masalah kesehatan seperti hipotiroidisme atau kurangnya produksi hormon oleh kelenjar tiroid, obat-obatan seperti kortikosteroid, atau faktor genetik.

Foto: pixabay

Oleh sebab itu masyarakat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan gizi seimbang dengan cara memperbanyak konsumsi produk susu rendah lemak, ikan laut yang kaya asam lemak omega-3, buah dan sayur, membatasi konsumsi daging merah, minuman kemasan dengan kadar gula tinggi serta asupan garam berlebih. Di samping itu, masyarakat dihimbau untuk menerapkan gaya hidup sehat dengan beraktivitas secara fisik secara teratur 30 menit sehari, lima kali seminggu.

Keluarga, teman, dan orang-orang terdekat diharapkan dapat mendukung mereka yang obesitas untuk mengubah gaya hidup mereka serta menjalankan program penurunan berat badan yang sesuai. “Pemerintah juga diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mengontrol asupan kalori berlebih, menciptakan budaya hidup sehat dan menyediakan program-program edukasi terkait dengan manajemen obesitas,” terang dr. Ario.

Agar tubuh tetap terkontrol, sebaiknya Medika Friends dan keluarga jangan menunda untuk konsultasi dengan dokter terdekat. Selain kesehatan akan lebih terjaga, kualitas hidup pun akan meningkat.