Istilah hipertensi berasal dari kata hypertension, yaitu hyper yang berarti tinggi, dan tension yang artinya tegangan, merupakan gangguan pada sistem peredaran darah yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas normal. Ketika tekanan darah berada di atas kondisi normal, maka dapat menyebabkan terjadinya gangguan jantung, ginjal, stroke, demensia, hingga kematian.

Namun tahukah Anda bahwa ternyata dibandingkan pria, wanita lebih berpotensi terserang hipertensi? Hal ini dikarenakan kondisi tubuh wanita cenderung mempertinggi risiko hipertensi. Seperti dikatakan dr. Arieska Ann Soenarta, SpJP, FIHA, FAsCC, salah seorang pendiri InaSH, bahwa kekurangan estrogen telah terbukti dapat merusak lapisan sel dinding pembuluh darah (endotil) sehingga memicu terjadinya pembentukan plak, disamping mengaktivasi sistem tubuh yang dapat meningkatkan tekanan darah.

Ann juga mengungkapkan kehamilan dapat memengaruhi terjadinya hipertensi. Lebih lanjut ia mengatakan, “Kehamilan dengan hipertensi dapat menyebabkan kematian pada ibu maupun janin. Hipertensi sebagai komplikasi dapat terjadi pada 7-9% kehamilan, 18% dari kematian Ibu hamil disebabkan hipertensi pada kehamilan,” ujarnya.

Foto: pixabay

Seorang wanita dikatakan menderita hipertensi bila tekanan darahnya mencapai 140/90 mmHg atau lebih. Nah, berdasarkan Report of the National High Blood Pressure in Pregnancy tahun 2000 yang digunakan sebagai acuan klasifikasi di Indonesia, terdapat beberapa jenis hipertensi pada kehamilan, antara lain adalah hipertensi kronik, kronik dengan pre eklamsia, gestasional, pre eklamsia dan eklamsia.

  1. Hipertensi Kronik adalah hipertensi yang muncul sebelum usia kehamilan 20 minggu atau hipertensi yang pertama kali didiagnosis setelah umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap hingga 12 minggu pasca persalinan.
  2. Preeklampsia dan eclampsia, merupakan hipertensi yang timbul setelah usia kehamilan 20 minggu, yang disertai dengan proteinuria, yaitu kondisi dimana terlalu banyak protein dalam urin. Sedangkan eklampsia merupakan preeklampsia yang disertai kejang-kejang atau koma.
  3. Hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsia, hipertensi kronik disertai tanda-tanda preeklampsia atau hipertensi kronik disertai proteinuria.
  4. Hipertensi gestasional, yaitu hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa disertai proteinuria. Hipertensi akan menghilang setelah 3 bulan pasca persalinan atau kehamilan dengan tanda-tanda preeklampsia tetapi tanpa proteinuria.

Untuk mengatasi hipertensi saat hamil sebaiknya rutin memeriksakan diri ke dokter kandungan, dengan begitu tekanan darah dan kondisi kehamilan Anda akan selalu terpantau dengan baik. Di samping juga tetap melakukan gaya hidup sehat untuk mengontrol tekanan darah.