Tahukah Medika Friends? Berdasarkan data WHO tahun 2015, lebih dari sepertiga anak laki-laki usia 13-15 tahun di Indonesia mengonsumsi produk tembakau. Lebih dari 3,9 juta anak antara usia 10 dan 14 tahun menjadi perokok setiap tahun, dan setidaknya 239.000 anak di bawah umur 10 tahun sudah mulai merokok. Di samping itu, lebih dari 40 juta anak yang berusia di bawah lima tahun menjadi perokok pasif.

Melihat data tersebut, kedaruratan ancaman konsumsi tembakau di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan, sebab menurut WHO, risiko kanker paru-paru meningkat pada perokok pasif antara 20 dan 30 persen, dan risiko penyakit jantung sekitar 25-35%.

Bertepatan dengan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati pada tanggal 31 Mei setiap tahunnya, seruan untuk meningkatkan kepedulian terhadap ancaman global maupun lokal akibat konsumsi tembakau (merokok) semakin meningkat. Studi-studi klinis telah membuktikan bahwa merokok merupakan penyebab utama kematian akibat penyakit kardiovaskular serta meningkatkan angka kejadian penyakit jantung koroner, dan lain-lain.

dr. Ade Meidian Ambari, SpJP, FIHA mengatakan bahwa merokok merupakan salah satu faktor risiko utama penyebab penyakit kardiovaskular yang dapat meningkatkan kecacatan dan kematian.

“Merokok dapat merusak lapisan dinding arteri koroner bagian dalam (disfungsi endotel) sehingga terjadi penumpukan lapisan lemak (atheroma) yang mengakibatkan penyempitan arteri coroner,” terang dr. Ade.

Foto: freepik

Lebih lanjut dikatakan, karbon monoksida dalam asap tembakau mengurangi jumlah oksigen dalam darah karena berikatan dengan haemoglobin, dan nikotin dalam rokok merangsang tubuh untuk memacu aktivitas sistem saraf simpatis sehingga jantung berdetak lebih cepat dan tekanan darah meningkat. Di samping itu, merokok dapat meningkatkan aktivasi sistem pembekuan darah mengakibatkan terbentuknya thrombus atau gumpalan darah di pembuluh darah koroner menyebabkan serangan jantung.

dr. Ade juga memaparkan, “Berdasarkan data WHO, kematian dini yang disebabkan oleh rokok di dunia mencapai hampir 5,4 juta kematian per tahun. Jika ini terus terjadi, diperkirakan 10 juta orang perokok meninggal setiap tahunnya pada 2025. Sebesar 35-40% kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskular dan berhubungan dengan rokok. Sedangkan 25-30% menunjukkan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular pada perokok pasif.”

Berdasarkan data BPJS, negara menggelontorkan dana Rp. 6,5 triliun pada periode Januari-September 2017 untuk membiayai tujuh juta kasus penyakit jantung di Indonesia. Jumlah kasus penyakit jantung pada 2017 bertambah bila dibandingkan dengan jumlah kasus pada 2016 yang hanya 6,5 juta kasus. Fakta ini menunjukkan bahwa penyakit Jantung menempati peringkat tertinggi pembiayaan penyakit katastropik di Indonesia.

Ia menambahkan, “Produk tembakau lainnya, seperti: bidis, cerutu dan shisha yang cukup populer di dunia memiliki dampak penyakit kardiovaskular akut yang sama dengan rokok, termasuk penyempitan pembuluh darah jantung (pembuluh darah koroner), meningkatnya denyut jantung dan curah jantung. Produk tersebut sering di anggap tidak berbahaya dibandingkan rokok, padahal pada faktanya produk tersebut memiliki risiko yang sama.”